“The most powerful element in advertising is the truth.” — William Bernbach
Kalau kamu lagi belajar copywriting, atau baru mau terjun ke dunia ini, mungkin ada satu pertanyaan yang cukup bikin was-was:
Harus lancar Bahasa Inggris dulu nggak, sih, buat jadi copywriter?
Jawabannya: nggak harus.
Seorang copywriter nggak wajib lancar atau fasih Bahasa Inggris seperti native speaker.
Yang lebih penting adalah kamu mengenal frasa-frasa Inggris yang sering muncul di dunia kreatif—terutama buat bikin headline yang memikat—dan cukup paham untuk membaca brief, meski ada campuran Bahasa Inggris di dalamnya.
Itu aja udah cukup sebagai fondasi awal.
Meski kadang ketika ngeliat para copywriter senior sering nulis headline pakai kata-kata Inggris yang catchy banget.
Atau brief dari klien datang campur-campur. Rasanya kayak…
“wah, harus kursus Inggris dulu nih sebelum jadi copywriter.”
Wkwkwk.. nggak mesti ygy
Oke, jadi…
Kenapa Nggak Harus Lancar Banget?
Karena pekerjaan utama copywriter bukan menerjemahkan. Bukan juga menulis esai akademik dalam Bahasa Inggris.
Tugas utama copywriter adalah menyentuh hati pembaca dan menggerakkan mereka untuk bertindak.
Dan untuk pasar Indonesia?
Diksi Bahasa Indonesia yang tepat justru bisa jauh lebih relatable dibanding Bahasa Inggris yang dipaksakan.
Kata seperti “nggak mau rugi”, “udah capek?”, atau “jujur aja deh” Itu punya daya ledak emosional yang susah ditandingi terjemahan Inggris mana pun.
Pembaca kamu ngomongnya Bahasa Indonesia. Jadi copynya pun harus ngobrol dalam bahasa yang sama.
Lalu, Bagian Mana dari Bahasa Inggris yang Perlu Kamu Tahu?
Yes, meski begitu, ada yang penting kamu ketahui dari:
Frasa Inggris di Headline dan Tagline
Ini yang paling sering muncul di dunia copywriting Indonesia.
Brand lokal pun banyak yang pakai frasa Inggris di headline mereka. Karena secara rasa, diksi Inggris kadang lebih punchy dan padat.
Contoh yang sering muncul:
- “Think different.”
- “Just do it.”
- “Because you’re worth it.”
Kalimat-kalimat itu pendek, tapi kena banget.
Sebagai copywriter, kamu perlu tahu kenapa frasa seperti itu bekerja—bukan sekadar menghafalnya.
Membaca dan Memahami Brief
Klien, terutama dari agensi atau perusahaan multinasional, sering kirim brief dalam format campuran atau bahkan full Bahasa Inggris.
Di sinilah pemahaman dasar Bahasa Inggris jadi penting.
Bukan untuk membalas brief dalam Bahasa Inggris yang sempurna, tapi untuk memastikan kamu ngerti apa yang diminta klien sebelum mulai nulis.
Salah paham brief = salah arah copy = revisi berulang = buang waktu semua pihak.
Capek banget kalau udah ngerjain dua kali. Hmm…
Pengalaman Kadika Soal Ini
Jujur, dulu Kadika juga sempat insecure soal Bahasa Inggris.
Ngeliat copywriter lain nulis headline Inggris yang keren, rasanya kayak ketinggalan kereta.
Apa harus les dulu? Apa harus bisa ngobrol lancar dulu?
Ternyata nggak.
Yang Kadika pelajari justru lebih ke arah rasa bahasa.
Bagaimana sebuah kata atau frasa bekerja secara emosional, baik dalam Bahasa Indonesia maupun Inggris.
Bukan grammar-nya yang diperdalam, tapi intuisi terhadap diksi.
Dan itu bisa diasah lewat banyak membaca: copy iklan, tagline brand, artikel, bahkan caption media sosial.
Ada pun…
Sudut Pandang yang Jarang Dibahas: Diksi Indonesia Justru Underrated
Banyak copywriter pemula yang terlalu terpukau dengan frasa Inggris, sampai lupa bahwa Bahasa Indonesia punya kekayaan diksi yang luar biasa.
Kata “rindu” — susah diterjemahkan dengan rasa yang sama ke Bahasa Inggris.
Kata “galau” — bahkan sudah masuk kamus Oxford karena nggak ada padanan yang tepat.
Frasa seperti “udah pernah coba?” atau “ini buat kamu yang…” langsung nyambung ke pembaca Indonesia tanpa perlu banyak penjelasan.
Jadi daripada memaksakan Bahasa Inggris yang kaku, justru kuasai dulu diksi Indonesia yang kaya rasa itu.
Itu nilai jualmu yang susah ditiru copywriter dari luar.
Tips Praktis: Cara Belajar Bahasa Inggris ala Copywriter
Kalau kamu tetap mau memperkuat kemampuan Bahasa Inggris—dan Kadika sangat menganjurkan itu—ini pendekatannya:
- Kumpulkan headline dan tagline Inggris yang kamu suka. Buat swipe file, catat kenapa kalimat itu terasa kena. Bukan dihafal, tapi dipahami polanya.
- Pelajari frasa yang sering muncul di dunia marketing. Kata seperti exclusive, limited, proven, free, instant. Ini punya daya tarik psikologis tersendiri dan sering muncul di copy.
- Biasakan membaca brief dalam Bahasa Inggris. Mulai dari brief sederhana, lalu naik level. Tujuannya bukan fasih bahasa Inggris, tapi cukup paham untuk eksekusi.
- Jangan terjemahkan kata per kata. Saat nulis copy dengan sentuhan Inggris, terjemahkan maksud dan rasanya bukan kata literalnya.
Copy yang bagus itu bukan soal akurasi linguistik, tapi soal koneksi emosional.
Contoh Nyata di Lapangan
Bayangkan kamu dapat brief seperti ini:
“We want a copy that feels premium but approachable for young adults in urban areas.”
Kamu nggak perlu bisa ngobrol Inggris. Kamu cukup paham: klien mau tone-nya premium tapi nggak sombong, dan targetnya anak muda perkotaan.
Dari situ, kamu bisa nulis copy dalam Bahasa Indonesia yang tepat sasaran.
Atau sebaliknya klien minta headline Inggris yang singkat dan catchy untuk campaign Instagram.
Kamu nggak perlu grammar sempurna. Kamu cukup tahu frasa mana yang ada rasanya dan mana yang datar.
Terakhir…
Jadi, apakah copywriter wajib lancar Bahasa Inggris?
Nggak wajib fasih atau lancar.
Tapi, cukup kenal sama frasa yang sering dipakai, kenal cara membaca brief, dan kenal bagaimana diksi Inggris bekerja secara emosional.
Selebihnya? Kuasai dulu Bahasa Indonesia-mu sebaik mungkin.
Karena di pasar Indonesia, copywriter yang bisa ngobrol dengan pembaca dalam bahasa mereka sendiri—dengan diksi yang pas, nada yang relatable, dan emosi yang nyambung—itu jauh lebih berharga dari yang sekadar fasih Inggris tapi kaku.
Bahasa adalah alat.
Dan alat terbaik adalah yang paling nyaman kamu gunakan.
Punya pertanyaan lain soal dunia copywriting?
Tulis di kolom komentar, ya.