“The consumer isn’t a moron; she is your wife.”
David Ogilvy menulis kalimat itu dalam buku Ogilvy on Advertising untuk mengingatkan penulis agar menghormati kecerdasan pembaca.
Prinsip itu cocok jadi pegangan saat kamu mulai latihan copywriting: tulis pesan yang jelas buat manusia, bukan sekadar merangkai kata yang terdengar keren.
Kamu mungkin sudah mengumpulkan banyak tips, tapi tetap bingung harus menulis apa saat membuka dokumen kosong.
“Aku harus bikin headline yang catchy,” pikirmu.
Lalu muncul sanggahan, “Tapi catchy buat siapa?” Nah, latihan di bawah ini membantumu menjawabnya lewat contoh yang bisa langsung dicoba.
Siapkan Satu Produk untuk Latihan Copywriting
Biar latihanmu gak melebar ke mana-mana, gunakan satu produk yang sama untuk beberapa jenis copy.
Contohnya, layanan katering makan siang sehat seharga Rp45.000 per porsi untuk pekerja kantoran.
Tentukan dulu tiga hal: siapa yang mau kamu ajak bicara, masalah apa yang mereka hadapi, dan tindakan apa yang kamu harapkan.
Misalnya, targetnya pekerja kantoran yang sering melewatkan makan siang, masalahnya sulit menemukan makanan praktis, dan tindakannya adalah memesan menu untuk besok.
Kalau produk sungguhan belum ada, pakai contoh fiktif ini.
Yang penting, jangan mengarang klaim kesehatan atau janji hasil yang gak bisa dibuktikan.
Siapkan timer 30 menit dan catatan kecil.
Setiap latihan cukup 5–10 menit, lalu sisihkan waktu untuk membandingkan hasilnya.
Latihan Headline dengan Tiga Sudut Pesan

Headline bukan lomba mencari kalimat paling puitis.
Tugasnya membuat orang yang tepat tertarik membaca bagian berikutnya.
Tulis lima headline untuk satu produk dengan sudut berbeda: masalah, manfaat, rasa penasaran, bukti, dan penawaran.
Untuk katering tadi, contohnya: “Sering telat makan siang di kantor?”, “Makan siang praktis, diantar ke kantormu”, atau “Pilih menu besok sebelum jam 8 malam”.
Setelah menulis, coret headline yang kabur atau menjanjikan sesuatu tanpa bukti.
Pilih satu yang paling mudah dipahami dalam sekali baca, lalu tanyakan: apakah pembaca langsung tahu ini buat siapa?
Target latihan: lima variasi dalam tujuh menit, bukan satu headline sempurna dalam satu jam.
Latihan CTA yang Menjelaskan Tindakan
CTA atau ajakan bertindak memberi tahu pembaca apa yang perlu dilakukan berikutnya.
“Klik di sini” memang pendek, tapi sering gak menjelaskan apa yang akan didapat.
Buat lima versi CTA untuk katering: “Pesan menu besok”, “Lihat pilihan makan siang”, “Pilih menu mingguan”, “Cek jadwal pengantaran”, dan “Pesan sebelum pukul 20.00”.
Setiap versi mengarahkan pembaca ke tindakan yang sedikit berbeda.
Coba pasangkan CTA dengan konteksnya.
Kalau tombol membuka daftar menu, “Lihat pilihan makan siang” terasa lebih jujur daripada “Pesan sekarang”.
Kalau pembaca memang siap membeli, CTA yang langsung menyebut pemesanan bisa lebih pas.
Catat juga apa yang terjadi setelah tombol diklik.
Janji di CTA harus sesuai dengan halaman tujuan, supaya pembaca gak merasa dijebak.
Latihan Iklan dan Caption dari Masalah yang Sama

Iklan dan caption boleh membahas produk yang sama, tapi ruang dan cara bacanya berbeda.
Iklan singkat perlu cepat menyampaikan manfaat, sedangkan caption bisa memberi konteks tambahan.
Drill Iklan Pendek
Tulis iklan maksimal 25 kata dengan urutan masalah, manfaat, lalu ajakan.
Contoh: “Jam makan siang keburu lewat?
Pilih katering sehat yang diantar ke kantor.
Cek menu besok dan pesan sebelum pukul 20.00.”
Hitung kata setelah menulis.
Kalau melewati batas, hapus bagian yang mengulang ide.
Jangan mengorbankan informasi penting hanya demi kalimat yang terdengar dramatis.
Drill Caption Media Sosial
Buat caption tiga kalimat: situasi yang dekat dengan pembaca, manfaat produk, lalu CTA.
Contoh: “Meeting beruntun bikin waktu makan siang sering kelewat.
Pilih menu dan jadwalkan pengantaran ke kantor untuk besok.
Cek pilihan menunya di tautan profil.”
Uji versi lain dengan pembuka berbeda, seperti pertanyaan atau pengamatan sehari-hari.
Hindari membuka semua caption dengan kalimat sensasional karena pembaca bisa cepat lelah.
Kalau terasa kaku, baca copy-mu dengan suara keras.
Bagian yang bikin kamu tersandung biasanya perlu dipotong atau ditulis ulang, hehehe.
Latihan Landing Page dengan Kerangka Sederhana

Landing page punya ruang lebih banyak daripada iklan, jadi pembaca perlu dibantu memahami penawaran sebelum mengambil keputusan.
Kamu gak harus langsung menulis satu halaman panjang.
Buat kerangka enam bagian terlebih dahulu:
- Headline: sebutkan manfaat utama, misalnya “Makan siang praktis yang sampai ke kantormu”.
- Penjelasan singkat: terangkan siapa yang cocok memakai layanan dan cara kerjanya.
- Manfaat: tulis hal konkret seperti pilihan menu, jadwal pengantaran, atau kemudahan pemesanan.
- Bukti: gunakan ulasan pelanggan atau informasi operasional yang benar-benar tersedia.
- Keberatan umum: jawab pertanyaan tentang area antar, waktu pemesanan, dan metode pembayaran.
- CTA: ajak pembaca melihat menu atau memesan dengan langkah yang jelas.
Isi setiap bagian dengan satu sampai tiga kalimat dulu.
Setelah kerangkanya utuh, cek apakah urutannya menjawab pertanyaan pembaca dari “Ini buatku gak?” sampai “Gimana cara pesan?”
Untuk belajar menyusun pesan yang lebih meyakinkan, kamu juga bisa membaca rekomendasi buku copywriter yang membahas headline dan copy penjualan.
Latihan Mengedit: Buang Kata yang Gak Bekerja
Copy yang bagus gak selalu lahir dari draf pertama.
Ambil satu hasil latihanmu, lalu tandai kata yang gak menambah kejelasan, manfaat, atau dorongan untuk bertindak.
Misalnya, kalimat “Kami menghadirkan solusi makan siang terbaik yang praktis dan lezat untuk menemani aktivitas harianmu” bisa dibuat lebih spesifik: “Pilih menu makan siangmu malam ini, lalu kami antar ke kantor besok.”
Versi kedua menyebut tindakan dan waktu dengan lebih jelas.
Namun, jangan anggap kalimat lebih pendek otomatis lebih baik.
Kalau detail penting hilang, tambahkan lagi seperlunya.
Saat mengedit, cek tiga hal: apakah klaimnya bisa dibuktikan, apakah manfaatnya relevan, dan apakah langkah berikutnya jelas?
Susun Rutinitas Latihan 20 Menit
Kalau waktumu terbatas, ulangi rutinitas ini empat kali seminggu dengan produk atau format berbeda:
- Menit 1–3: tulis target pembaca, masalah, dan tujuan copy.
- Menit 4–9: buat headline atau pembuka dalam lima variasi.
- Menit 10–15: tulis satu iklan, caption, CTA, atau bagian landing page.
- Menit 16–20: edit, baca keras-keras, dan simpan versi sebelum serta sesudah revisi.
Setelah dua minggu, kamu punya setidaknya delapan hasil latihan untuk dibandingkan.
Lihat pola yang berubah: apakah headline makin jelas, CTA makin spesifik, atau kamu makin cepat menemukan kata yang mubazir?
Kadika menyarankan satu kebiasaan kecil: simpan catatan alasan di balik setiap revisi.
Tulis, misalnya, “menghapus klaim yang gak ada buktinya” atau “mengganti CTA supaya sesuai dengan halaman tujuan”.
Catatan itu bikin kamu belajar dari keputusan, bukan cuma menimbun draf.
Kalau ingin latihan yang lebih terarah dan mempelajari standar kompetensi secara terstruktur, kamu bisa mengenal program Certified Impactful Copywriter.
Anggap itu pilihan untuk memperdalam kemampuan, bukan pengganti latihan menulis dan menerima masukan.
Sekarang pilih satu produk yang dekat dengan keseharianmu, lalu buat lima headline dalam tujuh menit.
Setelah itu, baca lagi dan tanyakan: kalimat mana yang paling membantu calon pembeli memahami langkah berikutnya?
