“Produknya bagus, tapi kenapa orang belum juga tertarik membeli?”
Kalau pertanyaan itu terasa familier, jawabannya mungkin bukan kurang jago merangkai kata, tetapi kurang riset copywriting tentang customer, produk, dan pasar.
Copy yang terdengar keren belum tentu menjawab keraguan pembaca, apalagi mendorong mereka mengambil tindakan.
Bayangkan kamu menulis iklan untuk aplikasi pengelola keuangan dan langsung memilih klaim “atur uang lebih mudah” karena terdengar menjual.
Namun, setelah membaca ulasan pengguna, kamu menemukan masalah yang lebih spesifik: banyak orang bingung menentukan pengeluaran mana yang harus dipangkas.
Informasi kecil itu bisa mengubah arah copy dari sekadar terdengar bagus menjadi terasa relevan.
Kenapa Riset Copywriting Menentukan Kualitas Copy?
Riset membantu copywriter memahami alasan orang membeli, hal yang bikin mereka ragu, dan bukti yang mereka butuhkan sebelum percaya.
Tanpa informasi itu, penulis sering mengandalkan asumsi seperti “semua orang ingin harga murah” atau “fitur paling canggih pasti paling menarik”.
Padahal, satu kelompok customer bisa mencari harga terjangkau, sementara kelompok lain lebih peduli pada layanan purnajual atau kemudahan pemakaian.
Copywriter bukan cuma bertugas menyusun kalimat, tetapi juga memilih informasi yang paling berguna untuk keputusan pembaca.
Kalau kamu ingin melihat pekerjaan yang terjadi sebelum sebuah iklan jadi, baca juga proses di balik satu iklan.
Copy yang Kuat Berangkat dari Tiga Sumber Informasi

Riset yang berguna biasanya menyatukan tiga sudut pandang: customer, produk, dan pasar.
Customer: Pahami Situasi, Keberatan, dan Pilihan Kata
Customer memberi petunjuk tentang masalah yang mereka hadapi, solusi yang pernah dicoba, dan alasan mereka belum mengambil keputusan.
Misalnya, calon peserta kelas desain mungkin bukan sekadar ingin “belajar desain”, tetapi ingin membuat portofolio yang cukup meyakinkan untuk melamar kerja.
Bahasa mereka juga bisa berbeda dari istilah di materi promosi, jadi catat kata-kata yang muncul di ulasan, percakapan layanan pelanggan, atau wawancara.
Produk: Pastikan Janji Punya Bukti
Pelajari fitur, cara kerja, batasan, harga, dan hasil yang memang bisa dijanjikan oleh produk.
Kalau aplikasi punya fitur pengingat otomatis, jangan berhenti pada klaim “lebih disiplin”, tetapi cari tahu bagaimana pengingat itu bekerja dan masalah apa yang dibantunya.
Riset produk juga mencegah copywriter membuat klaim yang terlalu jauh dari kenyataan, yang bisa merusak kepercayaan setelah customer mencoba produk.
Pasar: Temukan Alasan untuk Memilih Produk Ini
Perhatikan alternatif yang dipakai customer, cara kompetitor menjelaskan manfaat, kisaran harga, dan hal yang belum banyak ditawarkan.
Menurut panduan riset pasar SBA, riset pasar dan analisis kompetitor membantu bisnis memahami permintaan, pelanggan, serta posisi pesaing.
Untuk copywriter, wawasan itu bisa membantu membedakan klaim yang cuma terdengar menarik dari alasan memilih produk yang benar-benar relevan.
Riset Copywriting Bukan Berarti Mengumpulkan Data Sebanyak-banyaknya
Kesalahpahaman yang sering muncul: riset harus berupa laporan panjang, survei besar, atau spreadsheet yang penuh angka.
Padahal, untuk satu halaman produk, kamu bisa mulai dengan membaca 15 ulasan customer, memeriksa FAQ, berbicara dengan dua staf penjualan, dan membandingkan tiga produk sejenis.
Jumlah tersebut bukan aturan baku, tetapi titik awal yang cukup praktis untuk menemukan pola sebelum menulis.
Catat temuan dalam tabel sederhana dengan kolom temuan, sumber, arti bagi customer, dan kemungkinan pesan.
Contohnya, lima ulasan menyebut proses pendaftaran terasa membingungkan, FAQ menjelaskan langkah aktivasi, lalu pesan yang bisa diuji adalah “mulai dalam tiga langkah”.
Jangan langsung menganggap satu komentar mewakili semua orang, tetapi jadikan komentar itu petunjuk untuk dicari polanya di sumber lain.
Dari Temuan ke Copy: Contoh Sederhana

Misalnya, sebuah kursus bahasa Inggris untuk profesional menawarkan kelas malam secara online.
Asumsi awal copywriter mungkin berbunyi “Kuasai bahasa Inggris dengan metode terbaik”.
Setelah memeriksa pertanyaan calon peserta, copywriter melihat keberatan yang lebih konkret: mereka khawatir jadwal kerja berubah dan takut kehilangan kelas yang sudah dibayar.
Informasi produk menunjukkan rekaman kelas tersedia selama 30 hari, sementara customer yang sudah ikut menyukai fleksibilitas belajar ulang setelah jam kerja.
Copy bisa bergeser menjadi “Jadwal kerja berubah?
Putar ulang rekaman kelas selama 30 hari dan belajar saat waktumu lebih longgar.”
Kalimat baru itu lebih spesifik karena menjawab keberatan dengan fitur yang memang tersedia.
David Ogilvy dalam Ogilvy on Advertising dikenal dengan gagasan “The more you tell, the more you sell”, pengingat bahwa detail yang relevan bisa membantu pembaca memahami nilai sebuah penawaran.
Detail hanya berguna kalau benar, mudah dipahami, dan berhubungan dengan keputusan customer.
Cara Memulai Riset Tanpa Tenggelam di Spreadsheet

Tentukan keputusan yang ingin dibantu oleh copy, misalnya mendaftar konsultasi, membeli produk, atau mencoba versi gratis.
Tulis tiga hal yang belum kamu ketahui tentang customer, seperti keberatan utama, alternatif yang dipakai, atau hasil yang mereka harapkan.
Kumpulkan bukti dari sumber yang tersedia, seperti ulasan, chat layanan pelanggan, wawancara singkat, data penjualan, FAQ, dan halaman kompetitor.
Pisahkan fakta dari dugaan dengan menandai mana yang sudah didukung beberapa sumber dan mana yang masih perlu diuji.
Ubah temuan menjadi beberapa sudut pesan, lalu cocokkan tiap pesan dengan manfaat dan bukti produk.
Uji copy kepada customer atau melalui eksperimen pemasaran, kemudian lihat responsnya sebelum menyimpulkan pesan mana yang paling efektif.
Kadika biasanya akan lebih percaya pada pola yang muncul dari beberapa sumber daripada satu komentar yang kebetulan terdengar meyakinkan, hehehe.
Riset Membantu Copywriter Mengajukan Pertanyaan yang Lebih Tajam
Di sesi brief, pertanyaan “apa keunggulan produk ini?” sering menghasilkan jawaban umum seperti “kualitas terbaik” atau “pelayanan maksimal”.
Coba lanjutkan dengan pertanyaan yang lebih konkret: apa yang membuat kualitasnya berbeda, bagaimana customer membuktikannya, dan kapan manfaat itu paling terasa?
Untuk memahami customer, tanyakan apa yang mereka lakukan sebelum membeli, apa yang membuat mereka menunda, dan informasi apa yang akhirnya membuat mereka yakin.
Untuk memahami pasar, cari tahu solusi lain yang mereka pertimbangkan dan alasan mereka memilih atau menolaknya.
Semakin tajam pertanyaannya, semakin kecil peluang copy berisi klaim yang bisa dipakai oleh semua merek.
Riset Membuat Copywriter Lebih Dipercaya Tim dan Klien
Copywriter yang membawa bukti ke diskusi bisa menjelaskan kenapa pesan tertentu dipilih, bukan sekadar berkata “menurut saya kalimat ini lebih menarik”.
Misalnya, kamu bisa menunjukkan bahwa tiga dari lima wawancara menyebut proses penggunaan sebagai hambatan, lalu menyarankan manfaat itu ditonjolkan di bagian awal halaman.
Data kecil seperti itu belum tentu membuktikan hubungan sebab-akibat, tetapi memberi alasan yang lebih kuat untuk menguji satu pendekatan.
Kalau sedang membangun kemampuan dari dasar, keterampilan riset juga layak dilatih bersama kemampuan menulis, menyusun pesan, dan memahami strategi promosi.
Program Certified Impactful Copywriter bisa kamu pertimbangkan sebagai salah satu jalur belajar terstruktur untuk mengembangkan kompetensi copywriting.
Sebelum menulis copy berikutnya, coba berhenti sebentar dan tanyakan: informasi apa yang masih belum aku tahu, dan asumsi mana yang selama ini kuanggap sebagai fakta?

[…] kamu ingin mendalami prosesnya, baca juga alasan copywriter perlu riset sebelum menyusun […]