Lompat ke konten

Mau Latihan Copywriting? Mulai dari Iklan Produk Harian, Bukan Brand Besar

Meja latihan copywriting dengan kopi botolan, ponsel, dan buku catatan

“The consumer isn’t a moron; she is your wife.”

David Ogilvy menulis kalimat itu dalam buku Confessions of an Advertising Man untuk mengingatkan bahwa pembaca adalah orang nyata, bukan target abstrak.

Kalau kamu baru mulai latihan copywriting, jangan buru-buru membayangkan kampanye besar untuk merek terkenal.

Ambil produk yang kamu kenal, pilih satu media, lalu tulis iklan dengan tujuan yang jelas.

Latihan yang bagus bukan yang terdengar paling keren, tapi yang bikin kamu paham siapa yang diajak bicara dan tindakan apa yang diharapkan.

 

Mulai dari Barang yang Kamu Pakai Setiap Hari

Coba lihat benda yang ada di meja atau tasmu, seperti kopi botolan, pelembap, aplikasi transportasi, atau earphone.

Produk yang akrab bikin kamu lebih mudah membayangkan kapan orang memakainya, masalah apa yang muncul, dan apa yang mungkin mereka sukai.

Misalnya, kamu memilih kopi botolan yang biasa diminum sebelum berangkat kerja.

Jangan mulai dengan klaim besar seperti “kopi terbaik untuk semua orang” karena kamu belum punya bukti dan kalimat itu bisa dipakai merek mana saja.

Mulailah dari situasi yang spesifik: kamu butuh minuman praktis saat jadwal pagi padat, tapi gak mau repot menyeduh kopi.

Dari situ, kamu bisa menulis manfaat yang terasa dekat: kopi siap minum untuk menemani perjalanan tanpa perlu mampir ke kedai.

Produk harian juga memudahkanmu melakukan riset sederhana tanpa menebak-nebak.

Baca kemasan, halaman produk, ulasan pembeli, dan pertanyaan yang sering diajukan, lalu catat klaim yang benar-benar didukung informasi tersebut.

Kalau memilih produk yang belum pernah kamu pakai, jangan mengarang pengalaman seolah-olah kamu pelanggan setianya, hehehe.

 

Pilih Media Berdasarkan Satu Tujuan

Persiapan memilih format iklan dengan ponsel dan catatan di meja
Tentukan satu tindakan yang kamu harapkan dari pembaca sebelum memilih format iklan.

Media iklan bukan sekadar tempat menaruh tulisan karena setiap format punya ruang dan kebiasaan baca yang berbeda.

Sebelum mengetik, jawab satu pertanyaan: setelah membaca iklan ini, kamu ingin orang melakukan apa?

Tujuannya bisa berupa mengeklik tautan, menyimpan unggahan, mencoba sampel, mendaftar, atau langsung membeli.

Untuk latihan pertama, pilih salah satu dari tiga format ini, lalu tahan diri untuk gak menggabungkan semuanya dalam satu iklan.

  • Unggahan Instagram: cocok untuk melatih pembuka singkat, manfaat utama, dan ajakan bertindak yang jelas.
  • Email promosi: cocok untuk latihan subjek email, pembuka personal, dan penjelasan yang sedikit lebih panjang.
  • Halaman produk: cocok untuk menyusun manfaat, detail pendukung, dan jawaban atas keberatan calon pembeli.

Misalnya, kalau targetmu adalah membuat orang mengeklik tombol untuk melihat pilihan rasa, jangan menutup iklan dengan tiga ajakan sekaligus.

Tulis satu ajakan yang langsung, seperti “Lihat pilihan rasanya”, lalu pastikan isi iklan memang memberi alasan untuk mengeklik.

Kalau kamu ingin melihat bagaimana latihan menulis bisa dikembangkan menjadi portofolio, baca juga cara menggunakan blog untuk latihan menulis iklan tanpa klien.

 

Tiga Iklan untuk Latihan Pertama

Kopi botolan dan laptop sebagai contoh produk untuk latihan menulis iklan
Satu produk bisa jadi bahan latihan untuk beberapa format iklan.

Daripada bingung memilih ide yang sempurna, buat tiga versi iklan dari satu produk dan satu target pembaca.

Contohnya, gunakan kopi botolan untuk pekerja muda yang berangkat pagi dan ingin minum kopi dengan praktis.

 

1. Iklan Instagram

Latih kemampuan merangkum ide dalam beberapa baris yang mudah dipindai.

Contoh: “Pagi udah mepet, kopi belum sempat dibuat? Simpan kopi favoritmu di kulkas, ambil sebelum berangkat, dan mulai perjalanan dengan lebih praktis. Lihat pilihan rasanya.”

Versi ini menyebut situasi, menawarkan manfaat praktis, dan memberi satu ajakan.

Jangan menganggap jumlah kata yang pendek otomatis bikin iklan efektif karena pesan yang pendek tetap bisa terasa hambar kalau terlalu umum.

 

2. Email Promosi

Email memberimu ruang lebih untuk menjelaskan alasan sebuah produk layak dipertimbangkan.

Contoh subjek: “Kopi pagi tanpa antre di kedai”.

Contoh pembuka: “Kalau pagi kamu sering dimulai dengan buru-buru, menyiapkan kopi bisa terasa seperti satu tugas tambahan.”

Setelah itu, jelaskan solusi dengan informasi yang tersedia, seperti ukuran kemasan, pilihan rasa, atau cara penyimpanan.

Jangan menambahkan diskon atau batas waktu kalau promosi itu gak benar-benar ada.

 

3. Halaman Produk

Format ini melatihmu menjawab pertanyaan yang mungkin muncul sebelum orang membeli.

Susun isinya dari nama produk, manfaat utama, detail pendukung, lalu jawaban atas keberatan yang masuk akal.

Contoh keberatan pembeli bisa berupa rasa yang tersedia, jumlah isi, atau cara menyimpan produk setelah dibuka.

Jangan mengubah fitur menjadi manfaat dengan asal menempelkan kata sifat, tetapi jelaskan kenapa detail itu berguna bagi pembaca.

 

Cara Menulis Tanpa Mengarang Manfaat

Copy yang meyakinkan gak harus membuat klaim bombastis karena kejelasan dan bukti sering lebih membantu pembaca mengambil keputusan.

Buat catatan singkat sebelum mulai menulis agar idemu gak melompat dari masalah pembaca ke janji yang gak bisa dibuktikan.

  • Produk: apa yang sedang kamu promosikan?
  • Pembaca: siapa yang paling mungkin membutuhkan produk itu?
  • Situasi: kapan atau dalam kondisi apa kebutuhan itu muncul?
  • Manfaat: apa yang bisa dibantu produk, berdasarkan informasi yang tersedia?
  • Tindakan: apa satu langkah yang ingin pembaca lakukan?

Contohnya, fitur “kemasan berukuran 250 ml” bisa dijelaskan sebagai pilihan praktis untuk dibawa, kalau ukuran dan penggunaannya memang sesuai.

Namun, jangan mengubahnya menjadi klaim “paling praktis di Indonesia” tanpa data yang mendukung.

Kalau kamu masih sulit membedakan fitur dan manfaat, coba tulis fitur di satu kolom dan alasan fitur itu berguna di kolom sebelahnya.

Latihan kecil ini membantu kamu menghindari kalimat yang cuma terdengar menjual, tetapi gak menjawab kebutuhan orang.

 

Rencana Latihan 7 Hari yang Gak Bikin Mumet

Planner mingguan untuk menyusun jadwal latihan copywriting
Jadwal ringan membantu kamu konsisten berlatih tanpa harus menulis berjam-jam.

Kamu gak perlu menulis iklan baru setiap hari selama berjam-jam untuk membangun kebiasaan.

Gunakan satu produk selama seminggu supaya kamu bisa membandingkan format dan memperbaiki tulisan berdasarkan catatan yang sama.

  1. Hari 1: pilih produk dan kumpulkan lima informasi yang bisa kamu verifikasi.
  2. Hari 2: tentukan pembaca, situasi penggunaan, dan satu tujuan iklan.
  3. Hari 3: tulis tiga pembuka berbeda untuk unggahan media sosial.
  4. Hari 4: buat satu email dengan subjek, pembuka, manfaat, dan ajakan.
  5. Hari 5: susun bagian utama halaman produk dengan menjawab tiga keberatan pembeli.
  6. Hari 6: minta satu teman membaca tanpa menjelaskan maksud tulisanmu lebih dulu.
  7. Hari 7: revisi bagian yang bikin temanmu bingung, lalu simpan versi awal dan versi barunya.

Kalau temanmu bertanya, “Ini sebenarnya buat siapa?”, berarti gambaran pembacamu mungkin belum cukup jelas.

Kalau dia gak tahu harus mengeklik bagian mana, ajakanmu mungkin kurang terlihat atau belum spesifik.

Masukan seperti itu lebih berguna daripada sekadar bertanya apakah tulisanmu sudah bagus.

 

Nilai Copy dari Kejelasan, Bukan dari Rasa Keren

Setelah selesai menulis, baca ulang sambil membayangkan kamu baru pertama kali melihat produk tersebut.

Tandai kalimat yang berisi klaim umum, informasi yang gak terbukti, atau kata-kata yang bisa dihapus tanpa mengubah pesan.

Kemudian cek lima hal sederhana: pembaca yang dituju jelas, masalahnya terasa nyata, manfaatnya masuk akal, buktinya tersedia, dan ajakannya cuma satu.

Kamu juga bisa membandingkan dua versi pembuka tanpa mengubah bagian lain, supaya terlihat perubahan mana yang membuat pesan lebih spesifik.

Jangan menyimpulkan satu versi pasti lebih efektif hanya karena kamu lebih menyukainya, sebab uji hasil nyata memerlukan pembaca dan konteks yang sesuai.

Kadika biasanya menyarankan latihan dimulai dari produk yang akrab karena energi bisa dipakai untuk belajar menyusun pesan, bukan sibuk menebak cara kerja produknya.

Untuk mengembangkan latihan jadi kumpulan karya, kamu bisa menyusun versi terbaiknya sebagai contoh konsep dan memberi keterangan bahwa iklan itu adalah proyek latihan.

Sekarang pilih satu produk yang kamu pakai minggu ini: masalah apa yang ingin kamu bantu selesaikan, dan iklan seperti apa yang ingin kamu tulis lebih dulu?

2 Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *