Lompat ke konten

Cara Menulis Call to Action yang Jelas dan Bikin Orang Mau Bertindak

Pemasar muda meninjau halaman produk dan tombol ajakan bertindak di laptop

“Kalau kamu ingin orang bergerak, jangan bikin mereka menebak langkah berikutnya.”

Bayangin seseorang udah membaca halaman produkmu sampai bawah, tertarik, tapi berhenti karena tombolnya cuma bertuliskan “Lanjut”.

Di situ, call to action yang kurang jelas bisa bikin calon pelanggan ragu, padahal mereka tinggal selangkah lagi untuk bertindak.

CTA bukan sekadar tombol berwarna mencolok atau kalimat “Beli sekarang”.

Tugasnya adalah memberi tahu orang apa yang bisa mereka lakukan berikutnya, apa yang akan mereka dapat, dan seberapa besar komitmen yang diminta.

Kabar baiknya, kamu gak perlu merangkai kalimat yang terdengar heboh.

CTA yang efektif biasanya sederhana, relevan dengan kebutuhan pembaca, dan muncul di waktu yang tepat.

 

Cara Menulis Call to Action yang Jelas

Mulai dengan satu pertanyaan: setelah membaca pesan ini, tindakan apa yang paling masuk akal untuk dilakukan pembaca?

Kalau jawabannya ada tiga—beli produk, daftar webinar, dan ikuti akun media sosial—kemungkinan CTA-mu belum punya prioritas.

Satu materi sebaiknya mengarahkan pembaca ke satu tindakan utama supaya mereka gak perlu memilih di antara banyak ajakan.

Misalnya, halaman pendaftaran kelas bisa memakai “Daftar kelas gratis” sebagai CTA utama, lalu menempatkan tautan “Lihat materi kelas” sebagai pilihan sekunder.

Arah utamanya tetap terlihat tanpa melarang orang mencari informasi tambahan.

CTA yang jelas menjawab tiga hal: tindakan apa yang perlu dilakukan, manfaat apa yang akan didapat, dan apa yang terjadi setelahnya.

 

Gunakan Kata Kerja yang Terlihat

Kata kerja membuat instruksi terasa konkret, misalnya “Unduh panduan”, “Pilih jadwal konsultasi”, atau “Coba gratis selama 7 hari”.

Sebaliknya, kata seperti “Kirim”, “Lanjut”, atau “Submit” sering terlalu samar kalau berdiri sendiri.

Pembaca harus menebak apa yang mereka kirim atau ke mana mereka akan lanjut.

Kalau ruang tombol terbatas, gunakan kata paling penting di tombol dan pindahkan penjelasan ke kalimat pendamping.

Contohnya, tombol “Mulai uji coba” bisa ditemani keterangan “Tanpa perlu memasukkan kartu kredit”.

 

Sesuaikan CTA dengan Tahap Customer

Pemasar menyusun tahapan perjalanan customer di atas meja kerja
CTA yang tepat mengikuti kebutuhan orang di tahap keputusan yang berbeda.

Orang yang baru mengenal merekmu belum tentu siap membeli.

Meminta mereka langsung checkout bisa terasa seperti ngajak nikah saat baru kenalan, hehehe.

Sesuaikan ajakan dengan seberapa banyak informasi dan kepercayaan yang udah dimiliki calon pelanggan.

Mereka yang baru menemukan produk mungkin lebih nyaman membaca panduan, sedangkan orang yang sudah membandingkan harga bisa lebih siap memesan.

Seperti dijelaskan dalam model perilaku Fogg, tindakan muncul ketika motivasi, kemampuan untuk melakukannya, dan pemicu bertemu pada waktu yang sama.

Dalam praktiknya, CTA perlu terasa menarik, mudah dilakukan, dan hadir saat pembaca punya alasan untuk bertindak.

 

Contoh CTA untuk Tiap Tahap

Untuk tahap mengenal, tawarkan langkah ringan seperti “Baca panduan memilih laptop” atau “Lihat cara kerja layanan”.

Pembaca belum diminta membeli, tetapi mendapat alasan untuk mengenal solusi lebih jauh.

Untuk tahap mempertimbangkan, CTA bisa mengajak orang membandingkan pilihan atau melihat bukti.

Contohnya, “Bandingkan paket”, “Lihat hasil pelanggan”, atau “Cek fitur yang termasuk”.

Untuk tahap siap membeli, arahkan langsung ke tindakan yang diinginkan, seperti “Pilih paket bulanan” atau “Pesan konsultasi 30 menit”.

Pastikan halaman sesudah tombol konsisten dengan janji CTA-nya.

Contoh sederhana: seseorang membaca artikel tentang cara menyusun CV.

Tawaran unduhan template CV mungkin lebih pas daripada tombol “Beli layanan konsultasi karier” yang muncul tiba-tiba.

Kamu juga bisa menggali bahasa pembaca dari ulasan dan wawancara supaya CTA terasa dekat, bukan hasil tebak-tebakan.

Kalau butuh panduan, baca cara menulis copywriting untuk target market dengan bahasa yang terasa dekat.

 

Buat CTA yang Spesifik dan Rendah Risiko

Tampilan halaman produk dengan tombol tindakan yang terlihat jelas
Manfaat yang spesifik dan informasi yang jelas bisa mengurangi keraguan.

CTA yang spesifik membantu pembaca memahami hasil tindakannya.

“Dapatkan template anggaran bulanan” lebih jelas daripada “Pelajari lebih lanjut” karena manfaatnya langsung kebayang.

Spesifik bukan berarti harus panjang.

Coba bandingkan “Mulai sekarang” dengan “Buat akun gratis”.

Kalimat kedua memberi tahu tindakan sekaligus mengurangi kekhawatiran soal biaya.

Kalau orang belum berani mengambil langkah besar, tawarkan langkah yang lebih ringan.

Misalnya, izinkan mereka melihat contoh laporan sebelum meminta mereka memesan paket tahunan.

Perhatikan juga risiko yang mungkin terasa besar bagi pembaca, seperti biaya tersembunyi, proses yang merepotkan, atau takut menerima spam.

Jawab keraguan itu dekat dengan CTA menggunakan informasi yang benar dan bisa dibuktikan.

Untuk produk berlangganan, keterangan “Bisa dibatalkan kapan saja” membantu jika memang kebijakan produkmu demikian.

Jangan menambahkan janji semacam itu cuma karena terdengar meyakinkan.

 

Contoh Sebelum dan Sesudah

Sebelum: “Gabung sekarang.” Sesudah: “Daftar kelas gratis 45 menit.” Versi kedua menjelaskan apa yang didapat dan memberi gambaran waktu yang perlu disediakan.

Sebelum: “Beli sekarang.” Sesudah: “Pesan kopi 250 gram.” Versi kedua menyebut tindakan dan produk secara spesifik tanpa membuat klaim yang berlebihan.

Sebelum: “Hubungi kami.” Sesudah: “Jadwalkan konsultasi 20 menit.” Versi kedua mengurangi ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi setelah orang menekan tombol.

Kalau CTA-mu terdengar seperti teriakan promosi, coba cek apakah kamu sedang menjelaskan manfaat atau cuma menambah tekanan.

Mendesak orang dengan hitung mundur palsu bisa merusak kepercayaan, bukan mempercepat keputusan yang sehat.

 

Uji CTA dengan Data, Bukan Tebakan

Pemasar membandingkan performa dua variasi halaman melalui data
Pantau klik dan penyelesaian tindakan untuk mengetahui bagian yang perlu diperbaiki.

CTA yang terasa paling menarik buatmu belum tentu paling mudah dipahami pembaca.

Karena itu, uji kalimatnya dengan data dan perilaku pengguna, bukan cuma selera pribadi.

Sebelum mengubah tombol, tentukan ukuran yang mau dipantau.

Untuk halaman pendaftaran, misalnya, hitung berapa orang yang menekan tombol dan berapa yang benar-benar menyelesaikan formulir.

Misalnya, dari 1.000 pengunjung, 80 orang menekan tombol daftar dan 40 orang menyelesaikan formulir.

Tingkat kliknya 8 persen, sementara tingkat penyelesaian dari orang yang mengekliknya 50 persen.

Angka itu memberi petunjuk yang berbeda.

Kalau sedikit orang mengeklik, periksa kejelasan manfaat dan posisi CTA.

Kalau banyak yang mengeklik tapi sedikit yang menyelesaikan, cek panjang formulir, instruksi, dan kendala teknis.

Uji satu perubahan dalam satu waktu, seperti mengganti “Kirim” menjadi “Dapatkan jadwal konsultasi”.

Kalau kamu mengubah warna tombol, judul, dan penawaran sekaligus, bakal sulit mengetahui bagian mana yang berpengaruh.

Pastikan juga jumlah pengunjung cukup dan periode pengujian mewakili kebiasaan audiens.

Hasil dari 12 klik belum cukup kuat untuk menyimpulkan satu versi pasti lebih baik.

Kadika biasanya mulai dengan membacakan CTA secara keras.

Kalau kalimatnya terdengar janggal atau orang masih bertanya “habis ini apa?”, berarti instruksinya perlu dibereskan sebelum tombolnya dipoles.

 

Latih Kepekaan Copywriting dari Contoh Nyata

Kemampuan menulis CTA tumbuh saat kamu terbiasa menghubungkan pilihan kata dengan kebutuhan pembaca, tahap keputusan, dan hasil yang ingin dicapai bisnis.

Coba ambil satu halaman produk yang kamu temui hari ini, lalu catat CTA utama, manfaat yang dijanjikan, dan keraguan yang belum dijawab.

Setelah itu, tulis dua versi alternatif dengan tindakan dan manfaat yang lebih spesifik.

Kalau kamu ingin belajar copywriting secara lebih terarah, program Certified Impactful Copywriter bisa menjadi salah satu pilihan untuk memperdalam keterampilan menyusun pesan yang mendorong tindakan.

Terakhir, lihat CTA yang sedang kamu pakai di pekerjaan atau proyekmu.

Apakah pembaca benar-benar tahu langkah berikutnya, atau mereka masih harus menebak sendiri?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *